Dalam lima tahun terakhir, cara orang mencari kerja berubah hampir 180 derajat. Dulu sebagai engineer yang dicari, sekarang sebagai engineer yang aktif mencari.

Dulu: inbox LinkedIn penuh pesan headhunter

Sekitar lima tahun lalu, membuka LinkedIn hampir selalu disambut pesan baru dari recruiter. Startup yang baru dapat pendanaan, unicorn yang sedang ekspansi, sampai headhunter dengan tawaran dari luar negeri.

Sebagai frontend engineer dengan pengalaman di beberapa company, saya jarang benar-benar “mencari” kerja. Pertanyaannya bukan “di mana saya bisa diterima?”, melainkan “tawaran mana yang paling masuk akal?”. Proses interview relatif singkat, negosiasi gaji jadi hal biasa (gaji kompetitif), dan pindah kerja sering kali soal memilih. Bahkan, saya pernah interview di cafe sambil ngopi santai.

Sekarang: kita yang mengetuk pintu

Era bakar uang startup tidak bertahan selamanya. Perusahaan teknologi mulai bicara soal efisiensi dan profit, dan gelombang restrukturisasi datang bertahap. Sampai akhirnya, giliran saya yang ikut terdampak.

Saya tidak akan berlama-lama di bagian itu, banyak engineer mengalami yang serupa. Yang lebih menarik justru apa yang saya temui saat kembali ke pasar kerja, inbox yang dulu ramai kini jauh lebih tenang, dan aturan mainnya sudah berbeda dari yang saya ingat.

Dulu vs sekarang, berdampingan

Kalau dirangkum, perbedaannya terlihat di hampir setiap tahap.

Aspek Dulu Sekarang
Siapa yang memulai Recruiter dan headhunter menghubungi kita Kandidat menghubungi recruiter, hiring manager, dan network
Persaingan Lowongan banyak Satu lowongan diperebutkan banyak kandidat berpengalaman. Kalimat “Over 100 people clicked apply” sudah tidak asing lagi.
Cara masuk Lamaran dan pesan LinkedIn cepat direspons Lamaran lewat LinkedIn sering tanpa kabar; referensi jauh lebih efektif
Proses interview Singkat, beberapa tahap Lebih panjang: take-home test, system design, aptitude test, psikotes, sesi stakeholder dan lain sebagainya
Posisi tawar Kandidat memilih dan bernegosiasi Perusahaan lebih selektif dan berhati-hati
Yang paling menentukan Pengalaman di CV Pengalaman, personal branding, network, dan CV yang ATS-friendly

Intinya, kemampuan kita tidak berubah. Yang berubah adalah siapa yang harus bergerak lebih dulu dan seberapa jelas kita menyampaikan nilai kita.

Apa yang saya lakukan?

Sebagai engineer, insting pertama saya adalah memperlakukan ini seperti masalah teknis: amati, buat hipotesis, coba, ukur, lalu perbaiki.

  1. Menghubungi recruiter lebih dulu, dengan pesan yang lebih proaktif. Bukan “I’m open to work”, tapi siapa saya, peran apa yang saya cari, dan konteks yang relevan. Misalnya, 12 tahun lebih di frontend dan pengalaman memimpin tim engineering.
  2. Membuat CV yang ATS-friendly. Dulu CV langsung dibaca recruiter; sekarang banyak lamaran disaring sistem dulu sebelum sampai ke manusia. Jadi saya pakai format satu kolom, heading standar, tanpa tabel atau grafis, dan keyword yang sesuai dengan deskripsi lowongan.
  3. Mengaktifkan kembali network lama. Mantan rekan kerja, atasan, dan teman dari komunitas ternyata sumber informasi lowongan yang paling akurat, sering kali sebelum lowongannya dipublikasikan.
  4. Lebih selektif, bukan lebih banyak. Melamar ke semua tempat terasa produktif, tapi hasilnya minim. Saya memilih posisi yang benar-benar cocok, lalu menyiapkan setiap lamaran dengan serius.
  5. Mencatat dan mengevaluasi. Pendekatan mana yang mendapat respons, tahap interview mana yang sering jadi titik gugur, dan apa yang perlu diperbaiki. Bahkan, beberapa interview saya anggap sebagai latihan untuk melihat mana yang harus diperbaiki.

Cara mainnya yang berubah, bukan nilai kita

Terkadang membaca inbox yang sepi membuat kita menjadi overthinking. Padahal yang berubah adalah pasarnya. Pengalaman, skill, dan rekam jejak kita tetap sama, yang berbeda hanya cara mainnya.

Bagi saya, fase ini justru membuat saya sadar self branding itu penting. Sesuatu yang dulu tidak pernah benar-benar saya pikirkan karena tawaran selalu datang sendiri.

Jujur saja, perjalanan ini belum selesai. Sampai hari ini saya masih terus berjuang, mencoba pendekatan baru, dan mencari celah untuk langkah berikutnya.

Kalau kamu sedang di posisi yang sama: mulailah mengetuk pintu.

Saat ini saya sedang mencari role Engineering Lead, Engineering Manager, atau Senior Frontend Engineer. Kalau ada yang ingin bertukar cerita atau pengalaman, mari kita ngobrol!